Rabu, 23 Februari 2011

RealWorld Cursor Editor | Tool Buat Bikin Kursor

Siapa sih yang nggak mau kalau tampilan PC nya menjadi lebih menarik, pasti semuanya mau kan?? apalagi kalau terlihat berbeda dengan PC temen-temen kita. Saya punya tool yang dapat membuat kursor sesuka hati kita, saya jamin komputer anda makin keren aja. Tool ini bernama RealWorld Cursor Editor. Cekidot,,
Read More......

Desktop T Shirt Creator

Biasanya jika kita ingin mendesign sesuatu, seperti kaos, jaket, dll, pasti kita mengandalkan software photoshop atau corel draw. Tapi bagimana jika kita kurang ahli dalam menggunakan software tersebut?? Disini saya akan share software simple yang memang dibuat untuk masalah seperti itu, yakni Desktop T Shirt Creator Free.

Desktop T Shirt Creator ini menyediakan beberapa template yang bisa kita gunakan, seperti kaos, jaket, topi, tas, dll. Cara menggunakan nya juga mudah, tidak perlu memakan waktu yang lama untuk memahami menu-menu yang ada.
 
Read More......

Share |

Software Pencari Chord Gitar | Chord Pick Out

Buat sobat blogger yang hobi bermain guitar ataupun suka ngulik lagu-lagu baru, kini sobat blogger nggak usah repot-repot lagi berjam-jam mendengarkan lagunya hanya untuk mencari kuncinya. Dengan bantuan sebuah software yang bernama Chord Pick Out secara otomatis kunci/chord lagu tersebut akan keluar dengan sendirinya. Penggunaan nya pun cukup mudah, Kita hanya perlu memasukkan lagu yang ingin kita cari kunci/chordnya, kemudian software ini akan bekerja secara otomatis untuk menampilakan kunci/chord lagu tersebut.
 Pokonya software ini sangat bermanfaat banget deh sob, rugi kalau nggak mendownloadnya, apalagi software ini saya berikan secara gratis..tis..tis. Hehehe
Download chord gitar Read More......

Cara cepat mencari driver komputer

Akhirnya hari ini bisa disempatkan untuk memosting artikel kali ini,  yang sempat vacum dikarenakan banyak aktvitas kesehariannya, berhubung temen-temen banyak yang request tentang driver komputer, dan saya juga banyak aktivitas sehingga request driverdari temen-temen kepending beberapa waktu,untuk postingan kali ini saya akan memberikan sebuah trik yang sangat cepat dan efektif untuk mencari sebuah Driver komputer.Trik nya tidak rumit, mudah sekali.
Anda pernahkan ketika komputer anda sudah terlalu lambat atau terkena virus sehingga anda memformat ulang dan menginstalasi komputer anda. Sayangnya, ketika anda telah selesai menginstalasi komputer anda,anda tidak punya Back up file drivernya, sehingga mau nggak mau anda harus download drivernya dari internet,itu pun masih membutuhkan waktu yang lama unutuk mencari driver dari internet melalui pencarian search engin google, dan itupun belum tentu driver itu cocok bagi komputer anda,  saya akan memjelaskan sebuah trik untuk mendapatkan sebuah driver komputer yang anda inginkan,Berikut cara mencari driver dengan cepat dengan catatan :


Read More......

Kamis, 17 Februari 2011

Cerpen Pendidikan – Mendulang Harta

Hari panas terik. Sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun terasa mendidih. Aris mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya sampai juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.
‘’Huh, lega rasanya,’’ ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai.
‘’Hah, uang apa pula ini Mak,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,’’ pikirnya nakal.
“Uang punya Mak. Berikan sama Mak. Bapak mau keluar,’’ sahut bapak.
‘’Hmm, Mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,’’ pikirnya.
‘’Maaak, Oo Maaak,’’ panggil Aris.
‘’Ada apa Ris. Ganggu orang saja kamu ini,’’ kata maknya jengkel.
Lalu Aris menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa uang les dan LKS-nya belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh maknya.
‘’Saya heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali tetek bengek yang harus dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah kamu sekolah. Buang-buang uang saja. Sekarang karet itu tidak berharga, tahu?’’ Katanya dengan muka merah menyala.
Aris sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor. Tapi maknya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Aris cari uang sendiri. Kemanakah uang kan dicarinya? Ah, Emak tak mengertilah dengan pendidikan. Padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
‘’Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi, tapi akhirnya cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah?’’ tambah maknya lagi.
Aris lebih memilih diam dari pada menjawab omongan maknya. Ia menyayangkan kenapa maknya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti itu? Sekarang orang berlomba-lomba mencari ilmu, tapi mak malah melarangnya.
‘’Mak… mak, mengapa Emak lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak mak. Itu akan lebih bermanfaat,’’ gumamnya dalam hati.
Aris sudah lelah mendengarkan omelan emaknya itu. Dia keluar dan pergi entah ke mana.
Sedangkan si Lina, adiknya baru saja pulang dari sekolah SMP yang tidak jauh dari rumahnya. Setibanya di rumah, mak menyuruhnya mandi dan berpakaian yang bagus. Tidak biasanya mak seperti ini. Ternyata si Lina akan dilamar oleh Pak Anto duda kaya yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lina menolak dengan keras semua itu. Namun, mak tetap bersikeras dengan kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu di bawah umur untuk menikah. Apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda. Ah, benar-benar tidak masuk akal.
Emak sudah terpengaruh oleh harta. Mak bilang, ia iri pada teman-teman arisannya yang kaya dan hidup mewah. Sedangkan mak tidak punya apa-apa. Mak ingin menabung untuk menggapai semua itu. Kalian tidak usah sekolah. Hanya menambah beban saja.
Hari-hari berikutnya, Aris tak lagi bersekolah. Ia berhenti dan bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih tiap kali melihat teman-temannya bersekolah. Tapi apa mau dikata, mak sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.
Setiap kali ia ikut teman-temannya dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh teman-teman baru itu. Sedangkan mak sudah tidak peduli lagi dengannya. Ia sibuk mengumpulkan harta, apalagi sekarang ia telah punya menantu kaya.
Waktu terus berjalan. Aris semakin terjerumus dalam kehidupan yang tidak memiliki masa depan. Ia telah berubah. Hingga suatu hari dengan tergopoh-gopoh, Enda temannya Aris datang dan memberitahukan pada Emak kalau Aris ditangkap polisi tadi malam. Tapi sekarang ia dirawat di rumah sakit. Overdosis katanya. Habis pesta sabu-sabu.
Bagai guntur di siang bolong, Emak dan bapak kaget bukan kepalang. Tapi apa mau dikata. Itu salah mereka, mereka yang menginginkan anaknya seperti itu. Mak menangis-nangis menyesali perbuatan dan siapnya yang tak mau menyekolahkan anaknya itu.
‘’Sudahlah Nur, mudah-mudahan Aris lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi seperti dulu. Akan kita bina keluarga kita. Biarlah kita hidup sederhana, asalkan hati dan keluarga kita bahagia,’’ kata Bapak dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menenangkan hati mak.
‘’Bapak benar, kini mari kita bina dan songsong keluarga sakinah,’’ kata mak mantap.

CERPEN : A Dream of the Dreamers

A Dream of the Dreamers“nggi…Anggi…!!”, seorang ibu memAnggil anaknya.“iya bu… sebentar..Anggi ganti baju dulu”, sahut Anggi.Setelah mengganti seragam sekolahnya dengan seragam dinasnya, Anggi segera mengambil sebuah karung goni yang terselip di dinding dari anyaman bambu gubuknya yang hanya ia tinggali bersama ibunya. Ya.. sepulang sekolah Anggi selalu membantu ibunya memulung berkeliling kota mencari barang-barang bekas yang dapat di jual kembali untuk menyambung hidup mereka di hari berikutnya.Siang ini mentari terasa sangat terik. Itu tak menyurutkan niat anak kelas 5 SD itu untuk turut serta membantu ibunya. Panas memang. Anggi tak sama seperti kebanyakan anak perempuan lain yang ‘takut hitam’. Anggi telah kebal dengan ejekan teman-temannya yang kebanyakan berasal dari keluarga kaya yang menyebutnya ‘Anggi si arang’. Kulit Anggi memang hitam. Tapi itu tak menutupi paras ayunya yang semakin lengkap  dengan lesung pipit di pipi kirinya yang semakin membuatnya terlihat manis saat tersenyum. Anggi bersekolah di sebuah sekolah dasar swasta tempat anak-anak orang kaya bersekolah yang pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. (“tapi Anggi kan…?”). Anggi bisa bersekolah di tempat itu berkat bantuan seorang dermawan yang bersedia menanggung semua biaya sekolah dan perlengkapan sekolah Anggi karena melihat potensi dan semangat Anggi untuk bersekolah. Tapi dermawan tersebut hanya membiayai sekolah Anggi sampai kelas 2 SD, karena saat naik ke kelas 3 Anggi mendapat beasiswa sebagai siswa berprestasi di sekolahnya. Prestasinya mampu bertahan hingga sekarang.“Bu.. udah yuk.. karung Anggi udah penuh nih..”, kata Anggi seraya menyeka keringatnya yang mengalir di pelipisnya.“hmm.. ya udah.. Anggi istirahat dulu di sana.. Di bawah pohon itu.. ibu masih bawa karung kosong kok.. biar ibu lanjut..”, kata ibu, sambil menunjuk ke arah pohon beringin besar yang terlihat teduh dan sejuk.“tapi bu…”, Anggi menyela.“udah deh nak.. kamu istirahat aja.. ibu gak papa kok..”“ya udah deh bu.. ibu kalau capek istirahat yaa…”Anggipun berjalan menuju pohon beringin itu. Ia duduk di akar pohon dan bersandar di batang pohon tersebut. Angin sepoi menyapu kulit wajah Anggi yang basah karena berkeringat, juga rambut lurus sebahu Anggi yang terurai hingga berterbangan menutupi sebagian wajahnya. Di ambilnya rambut yang menutupi wajahnya, kemudian diselipkan ke belakang telinganya dengan ujung jarinya. Ia mengambil nafas panjang sambil memejamkan mata, lalu menghembuskannya seraya tersenyum dan berkata “Alangkah indahya dunia ini. Aku beruntung memiliki segalanya..”. walaupun bisa di bilang masih kecil, Anggi sudah bisa berpikir bijaksana. Manja tak ada dalam kamus hidupnya. Sejak kecil ia telah hidup prihatin bersama Ibunya. Angin sepoi terus saja membelainya. Rasa kantuk mulai menghampirinya. Tak di sadari, perlahan matanya mulai terpejam.***“Sekarang saya akan bacakan peringkat prestasi kelulusan anak-anak kelas 6 yang telah mengikuti ujian akhir nasional..yang di pAnggil di harap segera menempatkan diri di panggung utama.. peringkat kedua di raih oleh Yogi Indra Suherman siswa dari kelas 6 III, putera dari bapak Ali Suherman, M.Pd. peringkat ketiga di raih oleh Clara Nurmala Cahyani dari kelas 6 IV, puteri dari bapak Dr. Hj. Sonny Cahyono. Yang mendapat peringkat pertama tahun ini adalah…………Nidha Anggi Utami dari kelas 6 II, putera dari Alm. Bapak Joko Sunyoto. Bapak kepala sekolah diharapkan untuk bersedia memberikan penghargaan sekaligus kenang-kenangan kepada para siswa berprestasi.”“prok..prok..prok..”,suara tepuk tangan penonton riuh saat melihat kepala sekolah memberikan penghargaan dan kenang-kenangan kepada para siswa berprestasi.Ibu Anggi menangis di atas panggung karena terharu atas apa yang telah di raih Anggi, anak semata wayangnya. Anggipun bangga. Ia telah benar-benar tak mensia-siakan kesempatan yang selalu terbuka lebar untuknya. Segudang prestasi telah Anggi raih. Selepas lulus dari sekolah Dasar, lagi-lagi Anggi mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Ia merasa sangat beruntung. Tuhan sangat menyayanginya dan selalu memberikan jalan baginya, sehingga banyak orang di sekitarnya yang menyayanginya dan peduli dengannya.Sejak lama Anggi selalu bermimpi saat dewasa kelak ia ingin menjadi seorang pengacara yang selalu membela yang lemah. Ia sering membaca dari koran yang ia temukan, bahwa banyak orang kaya yang menindas orang miskin terutama pada masalah hukum. Anggi merasa miris. Kenapa sampai sekarang pemerintah belum mampu menegakkan keadilan..? banyak aparat yang gila harta dan tak peduli dengan hak asasi manusia. Namun tak sedikit juga yang benar-benar adil dan jujur. Namun Anggi hanya ingin meluruskan kawat lurus yang bengkok di tengahnya agar dapat lurus sempurna. Tapi, cara sesungguhnya tak semudah meluruskan seuntai kawat kecil. Itu perlu perjuangan yang tak mudah. Bagi para orang kaya, hukum bisa di beli. Dan bagi orang miskin, mereka tak berdaya dalam menghadapi hukum. Mereka bahkan di pandang sebelah mata oleh aparat penegak hukum itu sendiri. Seperti yang pernah Anggi baca, seorang pencuri kapas di penjara selama 1 th 6 bulan. Sedangkan para tikus berdasi di biarkan melenggang bebas,keluar masuk sel dengan bebas, bahkan sempat berlibur. Tak adil memang. Tapi itulah cermin hukum yang ada di Negara ini. Negara yang menyebut dirinya sebagai Negara hukum. Anggi telah bertekat, ia benar-benar ingin menjadi seorang pengacara yang hanya membela yang tertindas.Masa-masa SMP ia lewati layaknya anak usia remaja lainnya. Bedanya, Anggi masih saja memulung bersama ibunya sepulang sekolah, dan mengantarkan koran saat berangkat ke sekolah dengan sepeda bekas pemberian seseorang yang tinggal di perumahan elite di dekat tempat tinggalnya. Ia mempunyai seorang sahabat, Angga namanya. Kehidupan Angga berbeda 180 derajat di banding Anggi. Angga adalah seorang anak orang kaya yang selalu terpenuhi segala kebutuhannya. Namun demikian tak lantas membuat Angga menjadi seorang yang sombong dan manja. Menurut Angga, dia bukan orang kaya. Tapi orang tuanyalah yang mempunnyai harta. Bukan dia. Angga tak pernah menmbanggakan ataupun menyombongkan harta orang tuanya. Itulah sebabnya, Anggi tak canggung bersahabat dengan Angga. Anggi dan Angga adalah sepasang sahabat yang mempunyai prinsip dan tujuan hidup yang sama, yaitu menegakkan keadilan di Negara ini. Memang jarang ada anak SMP yang memikirkan hal seperti itu.3 tahun bersekolah di SMP yang sama dan menjadi sahabat yang baik dan tak terpisahkan. Saat pengumuman kelulusan lagi-lagi Anggi menjadi juara umum. Menakjubkan. Sedangkan Angga, sahabatnya mendapatkan juara 3. Mereka memang benar-benar sahabat yang kompak dalam hal apapun. Termasuk dalam urusan prestasi. Namun setelah lulus, mereka harus berpisah karena Angga harus menuruti keinginan orang tuanya untuk bersekolah di sebuah sekolah swasta yang di pilihkan orang tuanya. Sedangkan Anggi, ia tetap melanjutkan sekolah di sekolah negeri yang tak memerlukan biaya untuknya karena beasiswa dari pemerintah telah menanti. Namun sebelum mereka berpisah, mereka telah mengikrarkan sebuah janji bahwa mereka akan sama-sama menegakkan keadilan di Negara ini. Cita-cita yang mulia memang.Anggi melewati masa-masa SMA masih dengan bekerja keras. Kini ibunya mulai sakit-sakitan. Anggipun kini menjadi tulang punggung keluarganya. Ia tak lagi memulung. Tapi, kini ia menjadi seorang guru les di salah satu tempat bimbel ternama di kotanya. Honornya lumayan, cukup untuk ia dan ibunya makan sehari-hari. Namun untuk biaya berobat ibunya, ia tak mempunyai jalan lain selain berhutang kesana-kemari kepada para tetangga yang juga bukan orang yang berada. Berat memang. Apapun rela dilakukannya demi ibunya. Apapun masalah yang menimpanya, sosok Anggi selalu saja tegar dan bisa menyelesaikannya. Mungkin itu karena ia telah terbiasa hidup prihatin sejak kecil. Saat duduk di kelas 3 SMA, tepatnya 1 minggu sebelum ujian nasional  Anggi mengalami sebuah masalah. Seseorang ingin membeli tanah yang ditnggali Anggi, ibunya, dan para tetangga yang lain dengan harga yang murah dan dengan cara pemaksaan melalui terror-teror yang cukup meresahkan. Seseorang meletakkan kepala tikus yang telah di banting hancur dan juga sepucuk surat yang berisi ancaman di dalam kresek hitam di masing-masing pintu rumah. Orangitu adalah orang suruhan Pak Yudha, orang yang bukan berasal dari kota ini. Beberapa gentar dan takut hingga berencana untuk merelakan tanahnya di beli dengan harga murah dan terusir entah kemana. Tak ada yang tau tujuan orang itu memaksa membeli tanah-tanah warga tersebut.Anggi tak terima dengan perlakuan orang tak bertanggung jawab tersebut. Ia iba kepada ibunya yang sedang sakit-sakitan, dimana lagi mereka harus tinggal apabila terusir dari sini.  Ia tak gentar dengan ancaman orang yang merupakan suruhan dari Pak Yudha yang hendak mengambil alih tanah ini. Anggi menanggapinya dengan senyum yang sangat getir dirasa apabila sang pemaksa melihatnya.“haah..dipikir Anggi takut sama ancaman kayak gitu..!! liat saja.. gak bakal ada seorangpun yang terusir dari sini.. negaraku Negara hukum.. negarku menjamin sebuah keadilan untuk rakyatnya..”, kata Anggi optimis.Tak mau mengulur waktu, Anggipun mencoba berbicara para ketua RT tempatnnya tinggalnya untuk mengumpulkan warganya di balai warga siang ini juga untuk menyusun sebuah rencana bersama.***“nah.. sekarang semua warga telah berkumpul.. saya ingin bertanya, apakah di antara kalian ada yang telah menanda tangani surat penjualan tanah itu…?”, tanya Anggi. Semua warga saling menoleh satu sama lain. Sepertinya tak ada di antara mereka yang telah menanda tanganinya.“tidak ada..?”, masih tak ada jawaban. Anggi mengambil keksimpulan bahwa belum seorangpun yang menanda tanganinya. “bagus.. saya mengumpulkan anda semua disini untuk meminta persetujuan untuk memperkarakan kasus ini di pengadilan.. setuju…?”, Anggi meminta persetujuan. Warga tetap diam. Tak ada suara lantang yang terdengar. Hanya bisaik-bisik gemuruh yang terdengar. Sedetik..dua detik…tiga detik..“alaah.. urusan sama polisi, sama pengadilan bikin runyam..”, salah seorang warga menyampaikan pendapat.“begini yaa.. biarpun saya masih anak SMA, selama bersekolah saya mendapat pengetahuan tentang hukum yang tidak sedikit. Hukum akan memberikan perlindungan pada yang benar. Kita tunjukkan saja bukti ancaman orang tak bertanggung jawab itu. Apa anda semua rela kalau tanah kelahiran kita ini di rampas orang tanpa alasan dan tujuan yang jelas…? Yang lebih tidak baik adalah caranya. Orang itu melanggar hak asasi manusia.dia memaksa kita menjual tanah dengan harga yang murah. Apa lagi disertai dengan ancaman seperti ini. Apa anda semua bisa terima…? Kalau saya tidak akan pernah tinggal diam.. ”, jelas Anggi tegas. Semua warga terdiam mendengarkan penjelasam Anggi. Maklum, mereka semua tak sampai mendapatkan pendidikan seperti Anggi. Anggi mempunyai modal otak, tekat, dan keberuntungan untuk mencapai semua ini. Rata-rata dari mereka bahkan putus sekolah karena kemiskinan. Kini tak ada yang mengelak. Seirng berjalannya waktu, hari mulai sore dan para warga harus melanjutkan aktifitasnya. Anggi menyudahi pertemuan tersebut.***Pagi ini Anggi sengaja meminta ijin pada sekolahnya untuk tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Terpaksa ia berbohong karena ia tak ingin seseorang tau masalahnya sekarang. Pada pukul 9 ia akan pergi bersama ketua RT dan dua orang warga untuk melaporkan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh Pak Yudha dan anak buahnya. Di kantor polisi Anggi menjelaskan secara rinci apa saja yang telah diperbuat oleh Pak Yudha dan anak buahnya dengan menyertakan bukti-bukti yang dirasa cukup kuat. Polisipun menanggapinya dengan baik dan akan segera menangani masalah ini sebelum menjadi masalah yang lebih besar. Anggi dan para wargapun menyerahkan masalah ini pada polisi.Tak lama setelah laporan tersebut, Pak Yudha dan beberapa anak buahnyapun diringkus oleh polisi. Kini Anggi bisa bernapas lega karena biang keresahan masyarakat telah ditangkap. Anggipun bisa belajar dengan tenang untuk menghadapi ujian nasional yang 3 hari lagi akan dimulai.Setelah ujian berakhir, Anggi masih harus menjadi saksi di persidangan. Dengan lantang Anggi menjelaskan semuanya, tanpa suatu kebohongan apapun. Pak Yudha dan anak buahnyapun tak bisa mengelak karena bukti telah ditangan. Anggi pemenangnya. Sesabit senyum merekah indah di bibirnya. Semua warga memujinya dan menyandangkan predikat pahlawan pada Anggi. Ibu Anggi yang saat itu juga menyaksikan persidanngan, tersenyum bahagia. Ia bangga mempunyai seorang putri yang berani membela yang lemah, tanpa gentar dengan ancaman-ancaman yang ada.***Untuk mengisi waktu saat menunggu hari penentuan kelulusan tiba, Anggi tak mensia-siakan kesempatan untuk mengikuti tes beasiswa ke luar negeri. Ia benar-benar mendewakan waktu dan kesempatan yang mungkin tak datang 2 kali.Hari pengumuman kelulusan tiba. Anggi, bersama ibunya yang duduk di atas kursi roda pemberian seorang dermawanpun menunggu surat pengumuman kelulusan yang dikirim ke rumah masing-masing. Kebahagiaan muncul setelah Ibu Anggi membuka surat itu, yang menyatakan Anggi berhasil lulus dengan usaha kerasnya sendiri. Ibunya menangis haru disana. Begitu pula Anggi. Anggi selalu bisa membuat ibunya merasa sebagai orang tua yang berhasil mendidik anaknya dengan kerja keras dan ketekunan. Bukan dengan harta. Bahkan ibunya nyaris tak mengeluarkan biaya untuk membayar komite sekolahnya selama ini. Kebahagiaan mereka tak hanya di situ. Anggi menjadi salah satu dari 3 orang yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sungguh, Anggi memang tidak terlahir di keluarga yang beruntung. Tapi ia terlahir disertai dengan keberuntungan. “selamat nak… sejauh ini kamu berhasil.. jangan sia-siakan kesempatan itu ya.. jadilah apa yang selama ini kamu inginkan.., menjadi seorang pengacara, penegak keadilan yang hebat dan jujur..”, ibunya tersenyum dam menatap Anggi.Anggi membalas tatapan ibunya dengan prihatin. Ia tak rela meninggalkan ibunya yang sakit-sakitan sendirian di gubuk tua itu. Sedangkan apabila Anggi berangkat ke luar negeri, ia akan mendapatkan fasilitas hidup yang layak. Anggi merasa hal itu sangat tidak adil.“Anggi pengen tetap di sini saja sama ibu..”, Anggi tersenyum. “Anggi masih bisa ikut tes beasiswa untuk universitas negeri kok bu.. Anggi gak bisa tinggalin ibu sendirian di sini..”Ibunya tak kuasa menahan tangis haru. Ibunya hanya diam dan tersenyum dalam tangis.***Hari ini Anggi mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa di slalah satu perguruan tinggi ternama di kota tetangga. Ia bersaing dengan 80 peserta lain untuk memperebutkan 2 beasiswa yang akan di berikan. Anggi sempat pesimis. Tapi ibunya selalu memberikan dukungan pada Anggi.Lagi-lagi Anggi beruntung. Sebenarnya bukan hanya modal keberuntungan yang ia miliki, tapi juga otak yang cerdas. Anggi berhasil menjadi salah satu dari 2 orang yang terpilih. Dan ternyata, oran laing yang terpilih adalah sahabat Anggi sejak SMP. yaa.. ialah Angga. Mereka akan belajar di kampus yang sama dan mengambil jurusan Hukum. Mereka bersama-sama menepeti janji mereka untuk menjadi pembela kebenaran dan penegak keadilan.Hingga akhirnya mereka menjadi apa yang selama ini mereka impikan. Yaa..menjadi seorang pengacara hebat yang hanya ingin mencarikan keadilan untuk orang yang lemah, bukan untuk uang.Kini, dari hasil kerjanya, Anggi dapat memberikan tempat tinggal yang layak untuk ibunya, membiayai pengobatan ibunya, dan memberangkatkan ibunya Haji. Sungguh, Anggi benar-benar berhasil menjadi anak yang berbakti pada orang tua, peduli dengan cermin keadilan, dan memiliki banyak prestasi.Saat telah berusia 24 tahun, Angga meminangnya sebagai isteri. Hmm.. sungguh lengkap kebahagiaan Anggi. Dunia ini memang sangat adil. Sejak kecil Anggi hidup dalam keprihatinan, saat dewasa hidup dalam kepedulian.  ***  “Anggi..pulang yuk..udah sore nih..”, suara lembut membangunkan Anggi yang tertidur pulas di bawah pohon beringin.Anggi membuka matanya. Dilihatnya, ibunya berada di depannya. Anggi tersenyum. Senyum anak 10 tahun yang sangat manis.“ohh..ibu.. udah sore ya bu..? ayo pulang.. J ”, Anggi berdiri,kemudian menatap langit sore yang mulai kemerahan masih dengan senyum manisnya.“aku akan meraihnya..aku akan mewujudkan mimpi indahku… J”,kata Anggi. Kata itu terucap merdu dari bibir polos anak 10 tahun yang mempunyai cita mulia.Kemudian ia meraih dan memanggul karung yang berisi barang rongsok itu dan membawanya pulang. Anggi dan ibunya pulang ke gubuknya dengan bergandengan tangan seperti biasa. #END#   ->aku ingat kata Yusuf “HIDUP BUKAN CERPEN”. Memang. Tapi jika boleh aku berharap, aku ingin hidupku kelak bisa sama seperti yang tokoh “Anggi” dapatkan. Menjadi seorang pengacara yang hebat, bukan bertujuan untuk mencari harta duniawi, melainkan aku ingin berguna untuk siapa saja yang membutuhkan bantuan hukum.Sekian..Wassalam..

CERPEN : Antara Aku Dan Dia (PART.1)

Aku terpaku dengannya, dia? Anak yang paling tampan dikelasku. Dia me-shake rambutnya yang keemasaan itu, membuatku semakin ingin mengenalnya. Tapi aku hanya bisa memandanginya dari ujung kelas. Aku? Aku hanya anak gadis yang dijuluki semua orang 'Kutu Buku', berkacamata, berambut hitam kecoklatan sebahu. Penampilanku yang geeky membuat semua orang menganggapku 'Si Gadis Misterius'. Pagi datang. Aku segera mandi dan memakai seragamku lalu bergegas kebawah untuk sarapan. Disana sudah ada adikku, Ray dan kakakku, Ryan. Mereka memang memiliki nama yang hampir sama, tapi sifat mereka berbeda. "Pagi,"sapaku pada Mama. "Eh, dek ambilin roti tuh...,"tukas Ryan. Aku hanya mengangguk pelan. "Jadi 2 minggu lagi kamu ambil rapor ya?"Mama bertanya. Aku mengangguk lagi. "Eh ka, kenapa? Lagi kesambet ya? Kok ga ngomong-ngomong sih. Halooo???" Ucapan Ray menyadarkanku dari lamunan. Deg. "Ih, apaan sih. Aku nga ngela-- OUCH!" Tanpa sadar aku menyenggol teh panas yang ada disampingku. "Aduuuh, panaaas...." "Lagi siapa suruh ngelamun! Ckckck,"ucap Ryan ketus sambil membersihkan noda teh di meja makan. "Emang kenapa sih dek, mikirin dia lagi yaa?" Hatiku seperti benar-benar disambet setengah mati! "Em, em, eeh....,"jawabku gugup. "Hayoooo, kakak betul 'kan? Ryan gitu loh!" "Sudah nanti terlambat!"sela Mama. "IYA MA!"jawab kami bertiga serempak. Saat tiba disekolah aku bertemu Anna, temanku. Kami saling high-five dan berjalan menuju kelas. Saat itu, aku tertabrak seseorang. "Eh, jalan pake mata dong!" Aku merasa malu, itu Dia! "Eh, m-ma...maaf ya." "Makanya jangan ngelamun,"balasnya. "Heh! Kamu tuh yang sok tau. Loe kan yang nabrak dia!"sela Anna. "So?"jawabnya belagak bodoh. "So, MINTA MAAF!"teriak Anna.TO BE CONTINUED..... *****

CERPEN : "Indahnya Keindahan"

Terlintas dalam hiruk pikuknya suasana kedamaian, segores ujung pedang singa padang pasir membuat derasnya aliran sang pemberani dalam sebuah legenda, istilah dari ketegaran dan keperkasaan berjuta-juta jasad yang hidup dalam kematian, penerang langkah perjalanan hidup abadi. Pedih, perih, bahkan tulang belakang seakan tidak mau lagi menyangga beban yang dikandungnya. Apakah senyuman burung-burung kenari yang bertengger dibawah lutut dan kaki pemangsa beringas tidak membawa sebuah arti??? Itulah yang terselip dalam carut marutnya syaraf yang begitu teratur, seakan satu dari sekian banyak kebenaran dilontarkan oleh satu saja makhluk sholeh ciptaan-Nya, sang pujaan setiap insan yang mengerti akan indahnya keindahan dibalik sebuah benda dimanapun tempatnya. Tapi apakah lilin mampu menerangi kegelapan dalam mata hatinya??? Sedikit saja tidak akan ada cahaya terang menampakkan sebuah keindahan dalam pandangan realita yang setia bersama impian-impian dalam lamunannya. Hanya setitik dalam jutaan bahkan lebih bintang-bintang dalam ukuran mili meter bahkan tidak terhingga banyakknya. Hembusan udara penambah syahdu keindahan takkan menggetarkan gugusan bintang dan gunung-gunung yang menancap dalam dirinya, sebagai tonggak pertahanan daging hitam pekat dalam jasadnya yang masih berusaha mempertahankan kekuatan binatang-binatang indah tapi pemangsa mematikan. Tumbuh-tumbuhan berwarna-warni tapi hanya hitam putih, seperti halnya bunga sepatu merah warnanya, bunga bogenfil ada merah, ada putih, kuning namun hanya hitam putih. Benar apa kata kelelawar bahwa aku adalah secuil bahkan debu sekalipun tak layak untuk menggambarkanku, tak layak juga q pergunakan sdikitnya kemampuanku untuk menyakiti kaum yang lemah, padahal aku diberi banyak dari sekian banyaknya kekuatan hati pada jasad manusia unggulan, aku bisa menguasai gelapnya malam, aku bisa menaklukkan serangga-serangga dan buah-buahan yang seolah sudah tercipta khusus buatku sebagai penambah energi dalam relung-relungnya kegelapan. Benar juga apa kata semut-semut hitam dalam kegelapan dan tempat-tempat yang hitam pekat, dia mungkin hanya melihatku jika ada cahaya lilin yang selalu dia jaga dalam tidurnya, dalam duduknya, dalam berdirinya dalam berbaringnya, dan juga dalam berjalannya. Tapi sedikit kelemahan sifat dari kelelawar disiang hari yang lupa dimana singgahnya saat akan mengakhiri perburuannya maka partikel-partikel cahaya akan semakin redam dan akhirnya hanya akan terjerumus dalam jurang yang penuh dengan duri, binatang buas, atau tangan-tangan kejahatan justru akan hadir menghampirinya dengan semangat halilintar jika dia salah waktu dalam melakukan tugasnya.
      Kabut bukanlah sebuah penghalang, malam bukanlah kegelapan dan tidak menutup kemungkinan ada kebenaran dari ucapan ikan-ikan kecil yang berenang dengan damai dan tenang, mereka semua bernyanyi tentang keagungan, mereka menari memperlihatkan tentang kekuasaan sang penguasa dan dalam basah kuyupnya dalam setiap detiknya ada kebenaran tentang keindahan yang benar-benar indah jika menyadarinya. Mereka berucap bahwa siang bukanlah malam yang gelap gulita, sehingga mengganggu perjalanannya.....!!! Apa yang dia fikirkan dalam atom-atom berserakan dikepala indahnya itu....???Dia akan menyerukan dan berteriak dengan sekeras-kerasnya saat lembaran-lembaran kalimat cinta, dan hamparan surat-surat cinta yang abadi hanya dikatakan indah. Duri menjadi tidak sabar, pedang menjadi lemah dibakar oleh pemilik api kemungkaran, karena pedang selalu berusaha berontak untuk menebas batang-batang punya kelebihan tapi malas dan tidak tahu akan kekuatan yang ada. Suara tawanya menggelegar bak bom atom yang meluluh lantahkan nagasaki dan hirosima, serabut akar yang menguatkan kokohnya batang-batang pencakar langit tidak tergoyahkan oleh hembusan-hembusan bayu siang dan malam, riak gelombangnya menggunung tinggi beratus-ratus meter mengalahkan jutaan bahkan lebih makhluk setia dan durjana pembawa petaka kedamaian sejati, pengap, penat dan kerasnya hati mengejutkan tidur panjangnya dalam kelam dan sepi serta hambarnya bumbu-bumbu formula pembangkit kesadaran dan keabadian yang nyata.
      Bahasa isyarat_nya telah terhampar dengan jelas, memamerkan keindahan distiap moment dan kesempatan yang ada...Akankah keindahan itu juga dapat kumiliki dan kunikmati indahnya keindahan tersebut....??? Ya ucap kelelawar, bunga-bunga, semut-semut dan ikan-ikan kecil yang sedang berenang...dan semoga saja itu adalah harapanku yang tiada pernah punah untuk menikmati indahnya keindahan hidup.

CERPEN : Setetes air langit

Sore itu,mendung terlihat lebih kelabu  dari biasanya.Aku mendengarkan penjelasan guru Les Bahasa Asingku sambil menatap jengkel ke luar jendela.Hujan…Aku benci hujan. Aku benci saat aku harus mendengar gemericik air jatuh dari langit. Rasanya,hujan selalu menyebalkan bagiku.Aku terpejam sesaat,merasakan dinginnya udara. Daun jendela disebelah tempatku duduk sepertinya sengaja dibuka,membiarkan angin dari luar masuk kedalam ruangan yang sebenarnya sudah ber AC. Kembali aku menatap nanar keluar jendela. Ya,hujan memang selalu menyiksaku. Menyiksa dan memaksa otakku memutar lagi kejadian pahit masa lalu.Memaksa dan menyeretku untuk berdiri lagi ditempat dimana aku harus menyaksikan orang yang berharga dalam hidupku lemah tak berdaya.Dimana hujan merenggut dengan paksa adik yang ku sayangi.Sekali lagi,kejadian itu perlahan-lahan berputar dalam ingatanku.Tiba-tiba daun jendela terbanting keras dan bersamaan dengan bunyi gemuruh petir.aku tersadar dari lamunan masa laluku.Bel pulang telah berbunyi,aku segera bangkit dan berjalan keluar kelas. Berusaha meloloskan diri dari jeratan bayangan masa lalu. Di teras,aku terpaku sesaat. Melihat hujan yang sepertinya semakin deras. Aku menghampiri bangku kayu yang sengaja di taruh di teras untuk menunggu. Mataku menerawang jauh.          “Kak..payung Kak?” aku terlonjak kaget. Tiba-tiba seorang gadis kecil berdiri didepanku. Kulihat dia,seluruh tubuhnya basah. Di tangan kanannya terdapat sebuah payung,sedangkan tangan kirinya memegang payung untuk dirinya sendiri.          “Mau payung Kak?” Dia mengulangi pertanyaanya sambil menyodorkan satu payung dari tangan kanannya.Aku menggeleng. “Tidak…terimakasih”Ia melangkah  meninggalkanku. Kupandangi punggung gadis kecil itu yang semakin menjauh berjalan ditengah hujan. Sedikit tersentuh aku melihatnya. Walaupun prihatin,tapi aku kadang-kadang juga sebal dengan pengojek payung yang kebanyakan anak-anak itu. Pasalnya,beberapa dari mereka,menawarkan jasa payung dengan tidak sopan. Menarik-nari baju atau mengejar dan sedikit memaksa.          “Non Rere…” lagi-lagi Aku tersentak. Tak menyadari kehadiran Bang Maman,sopirku.          “Mari pulang Non…” katanya sambil menunduk-nunduk dan menyodorkan payung kearahku.Aku mengangguk. Sambil sedikit berlari kearah mobil.  Sepintas aku melihat gadis kecil tadi berdiri dibawah pohon didepan tempat Lesku. Masih dengan pakaian yang serampangan dan tubuh basah kuyub,namun matanya memancarkan suatu kebahagiaan. Ya,kebahagiaan ditengah hujan.***Aku memilih beristirahat dibawah pohon akasia di taman kota. Ku keluarkan sebotol air mineral dari dalam tasku. Hari ini,sengaja aku berjalan dari sekolah ke rumah. Bukan apa-apa,hanya saja Bang Maman sakit,jadi kubiarkan dia beristirahat di rumah. Selain itu juga karena aku merindukan masa-masa  SD dulu,dimana aku bisa berjalan dari rumah kesekolah sambil menikmati dunia yang dulu tak seperti ini,tak sepenat ini.Kuteguk lagi air dalam botol mineralku.          ‘‘Boleh minta,Kak?”Aku mendongak kearah suara. Gadis kecil itu lagi. ia memandang dengan sorot lembut kearahku. Sesaat aku bingung dengan kelakuannya yang sok akrab. Kusodorkan botol air mineral kepadanya. Segera ia menerima dan meneguknya hingga habis.          ‘‘Maaf Kak,habis” katanya sambil tersenyum.          “gak apa..masih banyak dirumah” kataku.Aku menepuk-nepukkan tanganku di sampingku,menyuruh dia untuk duduk.          “Adek..yang kemaren kan?” ia mengangguk.          “mana payungnya?” kataku sambil tersenyum dan menunjuk langit yang siang ini terlihat cerah.Ia tertawa. “ngojek payung biar gak kepanasan ya Kak..”katanya.Kuperhatikan lagi bajunya,banyak bagian yang sobek dan dijahit dengan asal.Ia menjulurkan tangannya.          “ Eva” katanya memperkenalkan diri sambil tetap menyunggingkan senyumnya yang ternyata sangat manis.          “Renata. Tapi bisa dipanggil,Rere” katakuAku berbincang-bincang dengannya beberapa saat,ternyata dia anak yang cerdas dilihat dari caranya berbicara. Bahkan aku bisa tertawa lepas sambil menimpali gurauan Eva yang membuat perutku sakit. Sesekali kulirik rambutnya yang memanjang itu terhempas seirama tiupan angin dibiarkan terurai begitu saja namun terlihat sangat halus dan natural, rambut yang indah untuk ukuran seorang gadis pengojek payung yang gemar berkutat dengan hujan.Kini aku tau,Dia adalah seorang anak yatim piatu yang sekarang tinggal di sebuah panti asuhan. Ibunya telah lama meninggal saat ia berumur satu tahun,sedangkan ayahnya meninggal dalam kecelakaan tiga tahun lalu.Yang mengenaskan,panti asuhannya terancam tutup,karena banyaknya hutang dan tidak adanya biaya dari pemiliknya. Untuk membantu ibu asuhnya,ia mencari uang dengan mengojek payung. Saat kutanyakan berapa hasil dari mengojek payung,dia menjawab dengan terkekeh,          “ ngojek payung gak bakal bisa bikin kaya Kak..gak tentu juga bisa bikin kenyang. Hasilnya..ya bikin basah..” aku kembali tertawa mendengar perkataanyya.Dilihat dari postur tubuh dan wajahnya,dia kira-kira berusia sembilan tahunan. Sama seperti usia adikku, jika ia masih ada. Karena merasa nyaman bersamanya,aku sepakat bertemu lagi untuk berbincang-bincang lagi dengannya. *** Februari,bulan yang basah. Bulan yang menyebalkan bagiku,namun tidak bagi Eva. Baginya,hujan adalah sebuah anugerah terindah selain hidupnya.Entah kenapa,dia begitu menyukai hujan,terlepas dari profesinya.Aku masih termenung dibawah pohon akasia,ditempat dimana aku bertemu dengan gadis kecil yang ia sebut dirinya sebagai Eva.Kubiarkan rintik-rintik air menerpaku.“Kak…” Eva duduk disampingku sambil menyandarkan punggungnya di pohon. Kupandangi rambutnya yang mulai basah karena rintik hujan. Dia hanya diam sambil terus menatap gerimis. Tiba-tiba ia bangkit,mengambil dua payungnya yang tergeletak ditanah. Satu ia pegang,dan satunya ia berikan kepadaku.Ia menarik lenganku,mengajakku menembus gerimis yang sebentar lagi akan menjadi hujan. Aku masih terdiam ditempatku.” aku tak suka hujan..” katakuIa tersenyum,lalu menarik tanganku lagi. Kali ini aku tak menolak.Eva membawa payung,namun tak menggunakannya.          “ kenapa tak kau pakai payungmu,Eva?” tanyaku.          “ payung ini?? sudah  kadaluarsa kak..” jawabnya sambil menyodorkan payung itu dan tertawa. Aku ikut tertawa mendengarnya. Bisa kulihat jika payung yang ia bawa itu berlubang di beberapa bagian. Bahkan sebenarnya sudah tak layak pakai dengan pegangan yang telah berkarat itu.          “ bagaimana tentang panti asuhan itu?” aku bertanya kepada Eva yang sedang berlari-lari kecil menyusuri trotoar dan sesekali meninggalkanku dibelakangnya.Ia berhenti sejenak,” Entahlah..” jawabnya singkat. Lalu kembali berlari melompati kubangan air.Saat melihatnya,terbesit rasa prihatin dalam hatiku. Hey,bukankah ayahku seorang pengelola panti asuhan juga?? Kenapa aku bisa selupa ini. Mungkin saja aku bisa membantunya untuk pindah ke panti asuhan yang ayah kelola.Hanya saja,ayah begitu sibuk,hampir tak pernah aku mendapatkan waktu bersamanya. Bahkan sekalipun tak pernah ia bercerita mengenai panti asuhan itu,kalau bukan Bang Maman yang cerita,aku juga tak akan tau.Aku berlari meyusul Eva.          “ Bagi kami..hujan itu anugerah…” katanya sambil memandang sendu kearah segerombolan anak-anak yang berlarian ditengah hujan. Dan ketika kuperhatikan,mereka semua adalah pengojek payung.Hatiku seperti tersengat sesuatu yang membuatnya pilu. Entah,kemana saja aku selama ini hingga tak tau kalau ditengah keramaian dan kemewahan ibu kota ini masih ada anak-anak yang seperti itu. Hampir saja air mataku menetes melihatnya.          “ hey kak..jangan salah dulu. Kami semua ini bahagia,kami bahagia saat harus berlarian ditengah hujan. Bahkan suatu anugerah bagi kami..” Eva yang sepertinya tau kesedihanku menepuk bahuku pelan.          “ hujan itu indah bukan Kak? Lantas,kenapa kakak begitu membencinya?”Aku menerawang jauh,kembali mengingat masa lalu yang sebenarnya setengah mati ingin ku buang.“ adikku….Reno,mungkin kalau dia masih ada,ia seusiamu. Laki-laki kecil yang pemberani. Begitu menyukai hujan,seperti kamu yang juga menyukai hujan…” aku tersenyum kecut. Eva memperhatikanku.“ dia,suka sekali berlarian ditengah hujan. Bermain-main saat gerimis datang.. baginya,hujan adalah sebuah kebahagiaan yang jatuh dari langit..”Sejenak terlintas dalam ingatanku,wajah Reno yang begitu ceria saat hujan datang.Aku kembali bercerita,” tapi..hujan juga yang telah merenggutnya dari dunia. Saat dia bermain didepan rumah,hujan yang begitu deras membuatnya jatuh dan terperosok kesungai. Tidak ada yang tau,dan dua hari kemudian mayatnya ditemukan disungai itu..” aku masih menahan air mataku.          “ Bukan hujan Kak..tapi takdir.” Kata Eva.          “Andai kakak tau betapa indahnya hujan..betapa bahagianya kami diantara air yang jatuh dari langit itu” lanjutnya.Sejenak aku berfikir. Mungkin benar apa yang dikatakan gadis keil ini,mungkin juga memang takdirlah yang telah membawa adikku pergi,bukan hujan.Hari itu,untuk pertama kalinya aku tersenyum diantara hujan. **** Sengaja untuk hari ini aku tak menemui Eva. Setelah pulang dari sekolah,aku langsung sibuk dengan payung-payung yang ku beli tadi.Aku bukan ingin berali profesi menjadi seorang pengojek payung,hanya saja ini kupersiapkan untuk gadis kecil dan teman-temannya yang selalu berkutat diantara hujan itu.Tinta lukis yang telah kusiapkan,kini berada ditanganku. Aku mulai melukis diatas payung itu satu persatu. Kebetulan aku sangat suka melukis dan sempat mendapatkan beberapa penghargaan dari bakatku ini.Ada berbagai gambar disana. Kupikir,payung-payung ini akan berguna bagi mereka. Karena kemarin kulihat payung mereka sudah usang.setelah semua selesai kulukis,kusuruh bang Maman memasukkan payung-payung itu ke mobil.Hey,apa kalian tau? Semalam aku merundingkan masalah panti asuhan itu pada ayah,dan ternyata dia setuju menjadi donatur untuk panti asuhan itu.Baiklah,ada dua kejutan disini.Pertama,payung yang kubuat khusus untuk para pahlawan hujan itu,yang tentunya Limited edition.Dan kedua,panti asuhan mereka akan selamat dari kejaran para rentenir gila itu.Aku bersiap untuk segera meluncur ke panti asuhan,setelah menyempatkan diri melirik kaca untuk melihat penampilanku,aku segera menuju mobil dan pergi kesana.          “ udah sampai Non” kata bang Maman sambil melirik kearah bangunan yang cukup tua tapi masih terawat rapi.Ada papan yang bertuliskan “Panti Asuhan Kasih Bunda” di depan pagar besi yang telah berkarat. Aku segera turun dan masuk kehalaman. Kulihat banyak anak kecil yang bermain disana. Mereka sejenak menghentikan aktivitasnya dan melihat kerahku. Aku tersenyum dan mereka membalasnya.          “ kak Rere?” seseorang dari dalam rumah memanggilku,dan setelah ia keluar ternyata itu Eva.Aku tersenyum.          “ apa yang membuat kakak mau datang kesini? “ tanya Eva sambil memperhatikan bungkusan besar yang kubawa.          “ ini..cobalah kau lihat dan kau bagi dengan temanmu” aku menyodorkan bungkusan itu. Ia membuka dan mengintipnya. Lalu mengeluarkannya satu persatu.          “ waahh..bagus sekali kak” ia melihat payung itu takjub.Aku tersneyum puas melihat ekspresinya.          “ siapa Va? “ seorang ibu-ibu setengah baya keluar,mencoba melihat apa yang terjadi.          “ ibu…saya Rere.” Aku memperkenalkan diri.Setelah itu kami berbincang-bincang. Membicarakan masalah panti asuhan yang akan ditutup ini. Kutawarkan bantuanku,ternyata ibu yang bernama Hera itu sangat senang. Ia memelukku erat ambil meneteskan airmata bahagia.          “ sudah ku bilang,hujan itu anugerah kan Kak…” kata Eva sambil menerawang jauh melihat hujan diluar panti. Aku mengangguk          ‘’ hujan yang mempertemukan kita,hujan yang membuat kakak tau bahwa begitu banyak keindahan yang belum kakak mengerti”Aku melihat gadis kecil disampingku itu. Aku kagum juga padanya,seorang anak sembilan tahun yang telah mengerti tentang hidup lebih dari yang kumengerti.Bibirnya melengkung keatas,ia tersenyum. Dan itu manis sekali.          “ hujan yang membawa kakak kemari,dan hujan yang membuat kakak sadar bahwa Reno pergi karena takdir”Aku melihat kagum kearahnya. Kupeluk dia,erat sekali.Dan kini,hujan tersenyum padaku.